A Morsel of Me

My photo
Someone who talks a lot, yet actually a shy one and might come off as indifferent or even cold at one point. A homebody who likes spending her time binge watching tv series or movies, or reading an emotionally exhausting book, yet always been thrilled with outdoor activities. It's quite contradicting, I know

January 06, 2019

2018: When it all began


2018 mungkin menjadi tahun dengan travelling paling banyak seumur hidup 23 tahun gue.
I don’t want to make this like an exaggeration, or like I’m showing off, because it’s not.
What I had experienced probably nothing; if I had to compare it to others’. But I ain’t to.
I just simply cannot believe that I have visited quite a few places where I didn’t expect nor did I plan the year before.

Semuanya benar-benar berawal dari rencana ngetrip bareng di akhir tahun 2017. Dari sekian lama dan panjang diskusi akhirnya diputuskanlah pergi ke Dieng sekaligus mampir ke rumah salah satu teman di Purwokerto. Tiketpun udah dibeli bareng. Tiket ditangan, tinggal menyusun itinerary dan menunggu tanggal keberangkatan. Ditengah-tengah excitement nunggu ini, ternyata salah satu teman “dropped the bomb”. Tiba-tiba bilang kemungkinan besar dia gak bisa berangkat karena satu dan lain hal. Setelah diskusi ini itu coba cari jalan keluar gimana caranya dia tetap bisa berangkat, hasilnya nihil. She said no til the end. Yasudah, berarti pilihannya cuma ada dua: tetap lanjut dengan agak sedikit berat hati meninggalkan si teman, atau batal total aja semuanya karena satu untuk semua, semua untuk satu.

Sebagai orang yang pantang menyerah bin egois, tentu saja, buat Regita dari awal gak pernah ada pilihan, satu-satunya jawaban ya: Lanjut lah! Yekali gak kuy. HAHA

Gak deng, sebenernya sayang aja sih, udah merencanakan sejauh itu dan bener-bener tinggal berangkat, kalau masih bisa jalan kenapa harus batal?

Maaf ya untuk temanku yang ditinggalkan J

Skip lanjut ke Februari. Sesungguhnya kenekatan Regita tidak sampai disitu saja. Hari keberangkatan di depan mata, tapi tiket masih belum di tangan. Kenapa bisa begitu? Karena yang beli tiket adalah si teman yang batal berangkat; dan sayangnya pada waktu itu teman ini sedang tidak pada keadaan yang mudah dihubungi. Bodohnya lagi, dari awal beli tiket kenapa juga gak disimpan sendiri kan malah dibiarin cuma satu temen yang megang J.

Beruntungnya, masih ada teman yang menyimpan tiket punya gue, tapi entah gimana cuma ada tiket berangkat. Harusnya bersyukur banget sih, karena yang justru baru ketemu tiket berangkat, bukan pulang; setidaknya masih bisa berangkat biarlah nanti pulang gimana. Dengan alasan ini Regita nekat aja berangkat tanpa kepastian tiket pulang; karena ya emang dari awal cuma satu sih misinya: Jadi Berangkat.

Alhamdulillah, ketika udah di Dieng si teman yang tidak jadi ikut itu udah bisa dihubungi dan Regita bisa pulang dengan aman dan sentosa. It was a nice trip after all.J

Banyak hal luar bisa mengesankan, gila, lucu, bahkan yang mengecewakan pun ada. Dari mulai tiba di Dieng disambut hujan deras yang berakhir bikin pengajian kecil-kecilan di penginapan berdoa semoga besok cerah (MasyaAllah it did work!), terkesima sama bagusnya pemandangan Dieng, nervous as heck waktu habis subuh gelap gulita bawa motor menuju sikunir, lelahnya naik tangga ke puncak sikunir tapi super duper amazed dengan pemandangan yang disuguhkan ketika sampe puncak, kesel banget jadi korban pungli masuk salah satu tempat wisata, jalan kaki ada kali 5 kilo ke baturraden dan gak dapet apa-apa, sampe baturraden dikira gembel sampe dipinjemin motor, mau balik pulang jadi gembel lagi gak nemu angkutan umum dan gak berani jadi hitchhikkers, ngobrol ngalor-ngidul di antara keluarga bahagia yang lagi piknik di alun-alun purwokerto, pulang kemaleman bener-bener gak dapet angkutan umum (jam setengah 8 kemaleman!!); berakhir dengan minta tolong ke temannya temen, anak pwt yang lagi pulkam yang  punya mobil tapi karena gak bisa bawanya jadi minta tolong temennya yang anak Jakarta lagi main ke pwt buat “jemput” dan “mulangin” kita ciwik-ciwik yang tersesat. Untuk yang terakhir ini lucu bin ngenes parah sih gak ngerti lagi. Temen gue anak asli pwt, tapi dia sendiri gak tau kalau gak ada angkutan umum sama sekali ke rumahnya setelah maghrib. Perjalanan dari pusat kota ke rumahny kayak 30 menit, and mind you, 30 menit di sana bukanlah 30 menitnya Jakarta yang sebenernya deket tapi jadi lama karena macet; alias JAUH BANGET BOK. J

But still, it was all a fun ride. I cannot imagine if I had to say no from the start, if I had to just cancel it all together. Pretty much I had given up all the excitement of this trip. I’d probably never remember how much fun travelling is (because the last time I had a trip was in Jan 2015).

Jadi, trip Dieng – Purwokerto ini menjadi sebuah awalan untuk kenekatan-kenekatan lainnya. Tidak menyesal sama sekali. Kayaknya satu-satu nya penyesalan adalah tidak merinci pengeluaran. Haha
Satu hal lagi yang diingat dari trip ini, selama perjalanan pulang dari Dieng, I kept looking back. I remember how much I’m gonna miss it. So I promised to go back, I whispered through my lips and prayed through my heart, “God I wanna go back, I had to, not because I want to enjoy Sikunir for second time, I’ll be back for Mount Prau; I’ll hike Mount Prau for sure.”

Allah SWT answered my prayer 6 months later. Life is sure full of surprise. J

Sejujurnya dari sini masih mau lanjut rambling dengan kegilaan trip lainnya. Tapi kayaknya mau nulis yang ini aja soalnya this trip really is where it all began. Maybe kinda like the turning point? I just keep craving for another fun ride. It is that addicting. Although I must say, the wish for more travels doesn’t equal the source in reality a.k.a money. #letsberealistic Yasudahlah, biarkan jadi niat aja dulu sementara, siapa tau kejadian Prau berulang kembali. Who knows? Gak ada salahnya kan sambil mengumpulkan pundi-pundi sambil terus diniatkan dan berdoa semoga yang diharapkan jadi kenyataan. Karena kadang-kadang, ada modal pun ketika semesta tidak menakdirkan ya susah. Meskipun seringnya yang penting selalu ada modal apa aja jadi bisa diusahakan (EH GIMANA??!) lol what a contradiction. #manaprinsipmu

Goalnya sementara waktu untuk 2019 ini adalah #mariberprinsip #2k19tetepngetrip #tripimpianherewego
Bismillah aja yaaaa J

Sekian late post dari Regita. Untuk siapapun yang udah baca postingan yang tidak berfaedah sampe sejauh ini, TERIMA KASIH BANYAK GAES, LUPH YOU PULL :* dan maaaaaaaaaaaafffff bangettttttt tulisannya carut marut, zuppperrrr berantakan. Huhuh maklum udah gak pernah lagi nulis. T_T (padahal dalam hati udah pengen nulis semacam catatan perjalanan gitu apalah daya cuma berakhir wacana. Hiks)

Btw kalo gue nulis yang udah tahun lalu tuh bakal basi banget gak sih? #shameless #mulaiajadulu #ehbukaniklan :))

Alhamdulillah wa syukurillah dapet sunrise di puncak Sikunir
tanpa kabut dengan pemandangan Gunung Sindoro & Prau di depan mata!


Send hearts from Dieng 💓
Telaga Warna is seen from the top at Batu Ratapan Angin
Ini nih tempat yang bikin jadi korban pungli.
The famous Mie Ongklok, too sweet for my taste.

Sebuah keharusan, foto di depan tulisan ini :))
Saat ngegembel di pinggir jalan nunggu angkutan umum lewat.
See yaa! Let's see where my foot will take me next!!