Janji.
Benih padi sudah lama ditabur. Hasilnya keluar sebagaimana hujan dan panas yang datang. Janji ini sudah terikat dengan kencangnya.
Lapang dada.
Jadi ini, harus jatuh dulu. Atau melihat yang lain terbang dengan sayap barunya. Harus lapang dada.
Ikhlas.
Jangankan iri, protes ataupun kembali mempertanyakan―kenapa begini, kenapa begitu, seharusnya seperti ini, seharusnya seperti itu―adalah pelanggaran terhadap janji sendiri.
Mimpi.
Belum berhenti. Jalan masih panjang. Batu-batu masih bergelimpangan. Mimpi ini, masih dan akan selalu dalam genggaman.
Keringat.
Kerja keras memeras otak. Lari kesana-kemari mencari secuil pengertian dalam teriknya panas matahari. Keringat ini akan mengucur, dan tidak pernah bohong.
Doa.
Yang dipanjatkan kepada-Nya dalam setiap sujud. Air mata yang mengalir dalam tangan yang terangkat. Senandung doa ini tidak akan pernah berhenti.
Pasti.
Jika permintaan itu tidaklah datang juga, itu artinya belum kan? Belum. Bukan sekarang, mungkin nanti. Bukan, bukan mungkin. Tapi pasti. Dalam nama Tuhan Yang Maha Kuasa, pasti nanti, ia datang.
A Morsel of Me
- gitaaaw☺
- Someone who talks a lot, yet actually a shy one and might come off as indifferent or even cold at one point. A homebody who likes spending her time binge watching tv series or movies, or reading an emotionally exhausting book, yet always been thrilled with outdoor activities. It's quite contradicting, I know
May 27, 2013
SNMPTN Undangan? Untuk siapa?
Sekitar 4 jam lagi pengumuman SNMPTN Undangan. Rasanya jantung gue berdetak puluhan kali lebih cepat, bersiap keluar dari tempatnya―ga peduli itu kabar buruk atau bahagia nantinya.
Siapa sih yang ga pengen pilihannya di jalur ini bisa lolos? Ga usah neko-neko pilihan pertama deh, satu aja berhasil tembus tuh bahagia tiada kira. Siapa coba yang ga mau masuk perguruan tinggi negeri ternama tanpa harus ribet belajar susah-susah ikut tes ini itu? Menakjubkan yah? Gue juga pengen, pengeeeeeeenn bangettt. Terutama untuk orang tua gue, bisa membuat mereka tersenyum bangga akan 'keajaiban jalur SNMPTN Undangan' bisa-aja-atau-engga gue dapet. Anak mana kan yang ga pengen ngeliat orang tuanya seneng?
Tapi kemudian gue mikir lagi, untuk yg kesekian kalinya pertanyaan ini terlontar dari lubuk hati gue yg terdalam:
Apa iya gue bener-bener pantes mendapatkan suatu hal yang layak disebut prestasi ini?
Dengan kemampuan gue yang cuma rata-rata a.k.a biasa aja ini, apa gue emang pantes?
Berdoa, memohon, meminta sama Allah SWT agar gue bisa diloloskan atas nama demi orang tua, demi membuat orang tua dan keluarga gue bahagia juga bangga. Apa iya alasannya semata-mata cuma karena itu?
Yakin bukan karena rasa egois yang sudah terlanjur teracun oleh kemalasan yang ga sembuh2? Egois karena terlanjur malas untuk belajar lagi, egois karena terlanjur malas untuk memeras otak lagi.
SNMPTN Undangan demi orang tua? Atau hanya demi kata 'malas' yang kemudian berubah jadi rasa egois?
Murnikah doa yang kau persembahkan itu hanya untuk orang tua mu?
Bahkan sampai detik ini pun gue ga bisa jawab semua pertanyaan yang hati gue sendiri lontarkan.
Tapi satu hal, apapun berita yang akan gue dapatkan nanti, itu adalah yang memang sepantasnya. Mental dan hati gue, mau ga mau, siap ga siap, harus siap.
Bohong besar kl gue bilang ga berharap kabar bahagia. Tapi ya apadaya, gue cuma bisa berserah diri, tawakal sama Yang Kuasa. InsyaAllah Dia akan selalu memberikan yang terbaik, sekarang ataupun nanti. InsyaAllah.
Siapa sih yang ga pengen pilihannya di jalur ini bisa lolos? Ga usah neko-neko pilihan pertama deh, satu aja berhasil tembus tuh bahagia tiada kira. Siapa coba yang ga mau masuk perguruan tinggi negeri ternama tanpa harus ribet belajar susah-susah ikut tes ini itu? Menakjubkan yah? Gue juga pengen, pengeeeeeeenn bangettt. Terutama untuk orang tua gue, bisa membuat mereka tersenyum bangga akan 'keajaiban jalur SNMPTN Undangan' bisa-aja-atau-engga gue dapet. Anak mana kan yang ga pengen ngeliat orang tuanya seneng?
Tapi kemudian gue mikir lagi, untuk yg kesekian kalinya pertanyaan ini terlontar dari lubuk hati gue yg terdalam:
Apa iya gue bener-bener pantes mendapatkan suatu hal yang layak disebut prestasi ini?
Dengan kemampuan gue yang cuma rata-rata a.k.a biasa aja ini, apa gue emang pantes?
Berdoa, memohon, meminta sama Allah SWT agar gue bisa diloloskan atas nama demi orang tua, demi membuat orang tua dan keluarga gue bahagia juga bangga. Apa iya alasannya semata-mata cuma karena itu?
Yakin bukan karena rasa egois yang sudah terlanjur teracun oleh kemalasan yang ga sembuh2? Egois karena terlanjur malas untuk belajar lagi, egois karena terlanjur malas untuk memeras otak lagi.
SNMPTN Undangan demi orang tua? Atau hanya demi kata 'malas' yang kemudian berubah jadi rasa egois?
Murnikah doa yang kau persembahkan itu hanya untuk orang tua mu?
Bahkan sampai detik ini pun gue ga bisa jawab semua pertanyaan yang hati gue sendiri lontarkan.
Tapi satu hal, apapun berita yang akan gue dapatkan nanti, itu adalah yang memang sepantasnya. Mental dan hati gue, mau ga mau, siap ga siap, harus siap.
Bohong besar kl gue bilang ga berharap kabar bahagia. Tapi ya apadaya, gue cuma bisa berserah diri, tawakal sama Yang Kuasa. InsyaAllah Dia akan selalu memberikan yang terbaik, sekarang ataupun nanti. InsyaAllah.
May 17, 2013
Well said..
I follow the instruction of this picture,
And you know what?
What I found is:
"Ia berjalan mondar-mandir sambil memandangi kamar Yeom."
I don't even know exactly what this 'mondar-mandir' means.
Haha. Funny. Very interesting.
And for whoever read this,
I take 'sex life' as in 'love life'.
You wouldn't disappointed, would you?
lol
Mei Kelabu
I just read this post about how dark the May 1998 incident—which I've been read in my history book milion times. I know it's late to bring that thing up, but it's better late than never right? I mean, I know this incident very well (not that very well, considering just based on the book I read) until I feel like that chapter in my book start getting—uh—so boring. BUT this is different, when you try to read in other people's view you'll be startled enough that you will be like 'ah.. this is different from what I knew all this time, it felt more real, so much much more interesting.' I got that feeling when I read that post, I don't know.. I just feel like 'Did I really have been knew this before? Or Is this my first time knowing about this?'.
Okay I know this post's title doesn't have correlation with the context, but.. May 1998 truly, definitely, 'kelabu' right?
Oh and.. What important is, why I suddenly write this post—despite the fact that I just found a great article about Indonesia's dark history—?
I read a poem that had me drop my tears. I'm seriously serious.
Okay I know this post's title doesn't have correlation with the context, but.. May 1998 truly, definitely, 'kelabu' right?
Oh and.. What important is, why I suddenly write this post—despite the fact that I just found a great article about Indonesia's dark history—?
I read a poem that had me drop my tears. I'm seriously serious.
o, kusuma bangsa
engkau mati muda
sebagai martir
menghadang pongahnya kemapanan dan kerakusan
menentang segala tipu daya dan kemunafikan
kau ikhlaskan segala harap dan apa yang engkau punya
demi tanah air dan rakyat yang papa
engkau mati muda
sebagai martir
menghadang pongahnya kemapanan dan kerakusan
menentang segala tipu daya dan kemunafikan
kau ikhlaskan segala harap dan apa yang engkau punya
demi tanah air dan rakyat yang papa
pendekar reformasi
desah nafas terakhirmu
adalah api yang mengganggang semangat perjuangan suci
enyahkan kelaliman dan angkara murka
tegakkan kemerdekaan
tegakkan keadilan
desah nafas terakhirmu
adalah api yang mengganggang semangat perjuangan suci
enyahkan kelaliman dan angkara murka
tegakkan kemerdekaan
tegakkan keadilan
pahlawan muda
selamat jalan
beserta doa tulus kami
selamat jalan
beserta doa tulus kami
by: Aryaguna, 13 May 1998
Copied from: link
I don't know and I don't care if you guys don't shed even just for a tear. I just hope you will find the meaning of the poem.
Subscribe to:
Comments (Atom)
